<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Tanggapan pada: Biografi singkat Amirul Mukminin Ali a.s.</title>
	<atom:link href="http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/</link>
	<description>Bersalawat Kepadanya Sebagai Bentuk Penghormatan.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Nov 2009 05:57:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Nugi</title>
		<link>http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/#comment-766</link>
		<dc:creator>Nugi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 02:17:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/#comment-766</guid>
		<description>Saya dulu punya murid, namanya Miqdad. Ia dari Bangil Jatim kalau tidak salah. Apakah ini Miqdad murid saya itu? Kalaulah bukan, mudah2an apa yang Anda sampaikan bisa memberikan pencerahan, khususnya bagi Sdr. Denoenk dan orang2 yang berpikir seperti beliau. Miqdad ialah seorang shahabat yang istimewa di sisi Nabi SAWW.  

Saya tambahi sedikit masukan untuk Sdr. Denoenk, coba saksikan keadaan saat ini. Saat ketika kita masih hidup, bisa berpikir, dan menyaksikan. Kita sama2 menyaksikan bagaimana penyikapan Persia dan dunia Arab pada umumnya (yang dipimpin para raja) dalam menghadapi &quot;sang raja kedzaliman&quot; dan menentang ketidakadilan. Mana yang menurut Anda lebih dekat dengan ajaran Nabi SAWW? Arab atau Persia? Anda pilih bersama para pengkhianat atau bersama para pengikut beliau SAWW? Siapa sesungguhnya yang melakukan makar/kudeta?

Coba cermati baik2 uraian berikut ini:

Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Yang menakjubkan adalah ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas. &quot;Kamu itu salah, karena berbeda dengan mayoritas masyarakat di sini. Kalaulah yang kamu yakini itu benar, pasti diikuti oleh banyak orang. Masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia, tidak biasa dengan yang seperti itu, kan? Karena ajaran itu SESAT dan MENYESATKAN&quot;. Demikian barangkali sekelumit fenomena yang terjadi di masyarakat kita, yang juga menjadi pemikiran dan keyakinan Sdr. Denoenk dan orang2 yang seperti beliau. 

Mirip dengan demokrasi, hukum mayoritas rupanya memiliki peran penting dalam menilai kebenaran suatu ajaran dan dakwah. Jumlah mayoritas benar-benar menjadi tolok ukur bagi suatu kebenaran, dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti, walaupun bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAWW. Padahal setiap insan beriman pasti yakin bahwa kebenaran itu adalah segala hal yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman (artinya): “Kebenaran itu berasal dari Rabb-mu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al Baqarah: 147)

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (Al Baqarah: 119)
Oleh karena itu, ketika terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat, Allah perintahkan kita semua untuk kembali kepada keduanya. Allah berfirman (artinya): “Jika kalian berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (As Sunnah).” (An Nisaa’: 59). 

Betapa besar pengaruh hukum mayoritas ini dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Sejauh mana keabsahannya menurut kacamata Islam, agar kita bisa menempatkannya sesuai dengan tempat dan porsinya? Baiklah, mari kita melanjutkan analisis ayat2 Al-Qur&#039;an yang berhubungan dengan hal itu.


Pengusung hukum mayoritas adalah oknum manusia, yang Allah sifati di dalam Al Qur’an dengan amat zhalim dan amat bodoh. Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72). 

Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi mayoritas manusia tidak beriman”. (Huud: 17).

Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi mayoritas manusia tidak bersyukur”. (Al Baqarah: 243).

Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, tetapi mayoritas dari kalian membenci kebenaran itu”. (Az Zukhruf: 78)

Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya mayoritas manusia adalah orang-orang yang fasiq”. (Al Maidah: 49).

Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya mayoritas dari manusia benar-benar lalai dari ayat-ayat Kami.” (Yunus: 92).

Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya mayoritas (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu”. (Al An’aam: 119).

Allah berfirman (artinya): “Itulah agama yang lurus, tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui”. (Yusuf: 40).

Allah berfirman (artinya): “Mereka (mayoritas manusia) tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (Al An’aam: 116).

Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam mayoritas dari jin dan manusia”. (Al A’raaf: 179).

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menggolongkan hukum mayoritas ke dalam prinsip yang dipegangi oleh orang-orang jahiliyyah, bahkan termasuk prinsip terbesar yang mereka punyai. Beliau berkata: “Sesungguhnya di antara prinsip terbesar mereka adalah berpegang dan terbuai dengan jumlah mayoritas, mereka menilai suatu kebenaran dengannya (jumlah mayoritas) dan menilai suatu kebatilan dengan kelangkaannya dan dengan sedikitnya orang yang melakukan”. (Kitab Masail Al Jahiliyyah, masalah ke-5).

Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata : “Di antara karakter jahiliyyah adalah bahwasanya mereka menilai suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas, sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah. Inilah patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan yang salah. Padahal patokan ini tidak benar, karena Allah berfirman (artinya): “Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT).” (Al An’aam: 116).

Dia juga berfirman : “Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Al A’raaf: 187). 

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (Al A’raaf: 102).

Jika demikian hakekat permasalahannya, maka betapa ironisnya ketika hukum mayoritas dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran. Suatu keyakinan amalan dinilai salah ketika berbeda apa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Demikian pula seorang da’i yang mempunyai banyak pengikut, ceramahnya diputar di seluruh radio nusantara dan akhirnya bergelar da’i sejuta umat maka dakwahnya pun pasti benar. Sebaliknya jika seorang da’i pengikutnya hanya sedikit, maka dakwahnya pun dicurigai, bahkan terkadang divonis sesat. 

Demikianlah jika hukum mayoritas diagungkan. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Nuh AS (yang artinya): “Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Huud: 40).

Rasulullah r bersabda :
عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ,وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ, وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ …
“Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang nabi bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi tidak ada seorang pun yang bersamanya….” (HR. Al Bukhari no: 5705, 5752, dan Muslim no: 220, dari hadits Abdullah bin Abbas)
Asy Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alus Syaikh berkata: “Dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang berdalih dengan hukum mayoritas, dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama mereka. Tidaklah demikian adanya, bahkan yang semestinya adalah mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir Al ‘Azizil Hamid, hal.106).

Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Maka tolok ukurnya bukanlah banyaknya pengikut suatu madzhab atau perkataan, namun tolok ukurnya adalah benar ataukah bathil. Selama ia benar walaupun yang mengikutinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang mengikutinya, maka itulah yang harus dipegang (diikuti), karena ia adalah keselamatan. Dan selamanya sesuatu yang batil tidaklah terdukung (menjadi benar-pen) dikarenakan banyaknya orang yang mengikutinya. Inilah tolok ukur yang harus selalu dipegangi oleh setiap muslim”. Beliau juga berkata: “Maka tolok ukurnya bukanlah banyak (mayoritas) atau pun sedikit (minoritas), bahkan tolok ukurnya adalah al haq (kebenaran). Barangsiapa di atas kebenaran -walaupun sendirian- maka ia benar dan wajib diikuti, dan jika mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan, maka wajib ditolak dan tidak boleh tertipu dengannya. Jadi, tolok ukurnya adalah kebenaran, oleh karena itu para ulama berkata: “Kebenaran tidaklah dinilai dengan orang, namun oranglah yang dinilai dengan kebenaran. Barangsiapa di atas kebenaran maka ia wajib diikuti.” (Syarh Masail Al Jahiliyyah, hal.61).

Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alus Syaikh berkata: “Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun. Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (mengikuti mayoritas manusia dalam beragama -pen) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya.” (Qurrotu Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq Kitab Fathul Majid, hal. 83, no. 1).

Bagaimanakah jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran? Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik. Akan tetapi sunnatulloh menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebathilan. Allah berfirman (artinya): “Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103).

“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (Al An’aam: 116)”. (Syarh Masail Al Jahiliyyah, hal.62).

Dari uraian yang panjang ini, mudah2an Sdr. Denoenk, dan orang2 yang berpikir/berkeyakinan seperti beliau, bisa berpikir ulang bahwa ternyata hukum mayoritas bukan dari syari’at Islam bahkan termasuk prinsip jahiliyyah. Oleh karena itu, ia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran suatu dakwah, manhaj, dan perkataan. Tolok ukur yang hakiki adalah kebenaran yang dibangun di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As Salafus Shalih, walaupun yang mengikutinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang mengikutinya.
 
Allahumma shali &#039;ala Muhammad wa ali Muhammad
Wassalam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dulu punya murid, namanya Miqdad. Ia dari Bangil Jatim kalau tidak salah. Apakah ini Miqdad murid saya itu? Kalaulah bukan, mudah2an apa yang Anda sampaikan bisa memberikan pencerahan, khususnya bagi Sdr. Denoenk dan orang2 yang berpikir seperti beliau. Miqdad ialah seorang shahabat yang istimewa di sisi Nabi SAWW.  </p>
<p>Saya tambahi sedikit masukan untuk Sdr. Denoenk, coba saksikan keadaan saat ini. Saat ketika kita masih hidup, bisa berpikir, dan menyaksikan. Kita sama2 menyaksikan bagaimana penyikapan Persia dan dunia Arab pada umumnya (yang dipimpin para raja) dalam menghadapi &#8220;sang raja kedzaliman&#8221; dan menentang ketidakadilan. Mana yang menurut Anda lebih dekat dengan ajaran Nabi SAWW? Arab atau Persia? Anda pilih bersama para pengkhianat atau bersama para pengikut beliau SAWW? Siapa sesungguhnya yang melakukan makar/kudeta?</p>
<p>Coba cermati baik2 uraian berikut ini:</p>
<p>Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Yang menakjubkan adalah ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas. &#8220;Kamu itu salah, karena berbeda dengan mayoritas masyarakat di sini. Kalaulah yang kamu yakini itu benar, pasti diikuti oleh banyak orang. Masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia, tidak biasa dengan yang seperti itu, kan? Karena ajaran itu SESAT dan MENYESATKAN&#8221;. Demikian barangkali sekelumit fenomena yang terjadi di masyarakat kita, yang juga menjadi pemikiran dan keyakinan Sdr. Denoenk dan orang2 yang seperti beliau. </p>
<p>Mirip dengan demokrasi, hukum mayoritas rupanya memiliki peran penting dalam menilai kebenaran suatu ajaran dan dakwah. Jumlah mayoritas benar-benar menjadi tolok ukur bagi suatu kebenaran, dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti, walaupun bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAWW. Padahal setiap insan beriman pasti yakin bahwa kebenaran itu adalah segala hal yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman (artinya): “Kebenaran itu berasal dari Rabb-mu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al Baqarah: 147)</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (Al Baqarah: 119)<br />
Oleh karena itu, ketika terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat, Allah perintahkan kita semua untuk kembali kepada keduanya. Allah berfirman (artinya): “Jika kalian berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (As Sunnah).” (An Nisaa’: 59). </p>
<p>Betapa besar pengaruh hukum mayoritas ini dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Sejauh mana keabsahannya menurut kacamata Islam, agar kita bisa menempatkannya sesuai dengan tempat dan porsinya? Baiklah, mari kita melanjutkan analisis ayat2 Al-Qur&#8217;an yang berhubungan dengan hal itu.</p>
<p>Pengusung hukum mayoritas adalah oknum manusia, yang Allah sifati di dalam Al Qur’an dengan amat zhalim dan amat bodoh. Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72). </p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi mayoritas manusia tidak beriman”. (Huud: 17).</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi mayoritas manusia tidak bersyukur”. (Al Baqarah: 243).</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, tetapi mayoritas dari kalian membenci kebenaran itu”. (Az Zukhruf: 78)</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya mayoritas manusia adalah orang-orang yang fasiq”. (Al Maidah: 49).</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya mayoritas dari manusia benar-benar lalai dari ayat-ayat Kami.” (Yunus: 92).</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya mayoritas (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu”. (Al An’aam: 119).</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Itulah agama yang lurus, tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui”. (Yusuf: 40).</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Mereka (mayoritas manusia) tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (Al An’aam: 116).</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam mayoritas dari jin dan manusia”. (Al A’raaf: 179).</p>
<p>Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menggolongkan hukum mayoritas ke dalam prinsip yang dipegangi oleh orang-orang jahiliyyah, bahkan termasuk prinsip terbesar yang mereka punyai. Beliau berkata: “Sesungguhnya di antara prinsip terbesar mereka adalah berpegang dan terbuai dengan jumlah mayoritas, mereka menilai suatu kebenaran dengannya (jumlah mayoritas) dan menilai suatu kebatilan dengan kelangkaannya dan dengan sedikitnya orang yang melakukan”. (Kitab Masail Al Jahiliyyah, masalah ke-5).</p>
<p>Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata : “Di antara karakter jahiliyyah adalah bahwasanya mereka menilai suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas, sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah. Inilah patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan yang salah. Padahal patokan ini tidak benar, karena Allah berfirman (artinya): “Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT).” (Al An’aam: 116).</p>
<p>Dia juga berfirman : “Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Al A’raaf: 187). </p>
<p>“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (Al A’raaf: 102).</p>
<p>Jika demikian hakekat permasalahannya, maka betapa ironisnya ketika hukum mayoritas dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran. Suatu keyakinan amalan dinilai salah ketika berbeda apa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Demikian pula seorang da’i yang mempunyai banyak pengikut, ceramahnya diputar di seluruh radio nusantara dan akhirnya bergelar da’i sejuta umat maka dakwahnya pun pasti benar. Sebaliknya jika seorang da’i pengikutnya hanya sedikit, maka dakwahnya pun dicurigai, bahkan terkadang divonis sesat. </p>
<p>Demikianlah jika hukum mayoritas diagungkan. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Nuh AS (yang artinya): “Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Huud: 40).</p>
<p>Rasulullah r bersabda :<br />
عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ,وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ, وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ …<br />
“Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang nabi bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi tidak ada seorang pun yang bersamanya….” (HR. Al Bukhari no: 5705, 5752, dan Muslim no: 220, dari hadits Abdullah bin Abbas)<br />
Asy Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alus Syaikh berkata: “Dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang berdalih dengan hukum mayoritas, dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama mereka. Tidaklah demikian adanya, bahkan yang semestinya adalah mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir Al ‘Azizil Hamid, hal.106).</p>
<p>Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Maka tolok ukurnya bukanlah banyaknya pengikut suatu madzhab atau perkataan, namun tolok ukurnya adalah benar ataukah bathil. Selama ia benar walaupun yang mengikutinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang mengikutinya, maka itulah yang harus dipegang (diikuti), karena ia adalah keselamatan. Dan selamanya sesuatu yang batil tidaklah terdukung (menjadi benar-pen) dikarenakan banyaknya orang yang mengikutinya. Inilah tolok ukur yang harus selalu dipegangi oleh setiap muslim”. Beliau juga berkata: “Maka tolok ukurnya bukanlah banyak (mayoritas) atau pun sedikit (minoritas), bahkan tolok ukurnya adalah al haq (kebenaran). Barangsiapa di atas kebenaran -walaupun sendirian- maka ia benar dan wajib diikuti, dan jika mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan, maka wajib ditolak dan tidak boleh tertipu dengannya. Jadi, tolok ukurnya adalah kebenaran, oleh karena itu para ulama berkata: “Kebenaran tidaklah dinilai dengan orang, namun oranglah yang dinilai dengan kebenaran. Barangsiapa di atas kebenaran maka ia wajib diikuti.” (Syarh Masail Al Jahiliyyah, hal.61).</p>
<p>Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alus Syaikh berkata: “Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun. Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (mengikuti mayoritas manusia dalam beragama -pen) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya.” (Qurrotu Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq Kitab Fathul Majid, hal. 83, no. 1).</p>
<p>Bagaimanakah jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran? Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik. Akan tetapi sunnatulloh menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebathilan. Allah berfirman (artinya): “Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103).</p>
<p>“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (Al An’aam: 116)”. (Syarh Masail Al Jahiliyyah, hal.62).</p>
<p>Dari uraian yang panjang ini, mudah2an Sdr. Denoenk, dan orang2 yang berpikir/berkeyakinan seperti beliau, bisa berpikir ulang bahwa ternyata hukum mayoritas bukan dari syari’at Islam bahkan termasuk prinsip jahiliyyah. Oleh karena itu, ia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran suatu dakwah, manhaj, dan perkataan. Tolok ukur yang hakiki adalah kebenaran yang dibangun di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As Salafus Shalih, walaupun yang mengikutinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang mengikutinya.</p>
<p>Allahumma shali &#8216;ala Muhammad wa ali Muhammad<br />
Wassalam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Miqdad</title>
		<link>http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/#comment-693</link>
		<dc:creator>Miqdad</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 02:57:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/#comment-693</guid>
		<description>Ikut ngomentari nih...

untuk saudara denoenk,

Pengetahuan anda tentang sejarah sangatlah dangkal... amat sangat dangkal, bahkan Al-Quran Surah Al-Ahzāb : 33 tidak anda pahami. Jadi ya susah... saran saya banyak belajarlah bung... 

Keutamaan atau kemuliaan Saydinah Ali. kw. bukan karena beliau mengharapkan pengakuan anda atau bahkan seluruh umat manusia ini. Keutaman beliau karena tingkah laku, peran, kesucian, dan banyak lagi mas.... banyak yang tidak anda tahu.... Beliau adalah sahabat, saudara, menantu yang paling utama disisi Nabi. &quot;Aku gerbang ilmu dan Ali kuncinya&quot; -hadis Nabi.

Siapa musuh2 beliau?, musuh2 beliau adalah orang-orang durjana (antara lain: Mu&#039;awiya, Yazid (anak dan cucu Abu Sufyan / Hindun).

Rasul SAW sudah beberapa kali menyampaikan keutamaan Ali kw. (hadis shahih Buhari/Muslim dll). Terakhir waktu haji wa&#039;da. 

Anda jangan aneh atau heran dengan negeri Persia yang tidak hidup bersama Rasulullah SAW lebih mengatahui wasiat dsb... tapi tanyakan pada diri anda sendiri... anda di sini di Indonesia kok tau tentang islam... apakah anda hidup bersama Nabi? Apakah Islam di Arab sana lebih benar dari Islam di Indonesia?

Jadi saya pikir lebih baik anda pindah saja ke Arab sana dan hidup berdampingan dengan raja2 arab... karena menurut anda mereka lebih utama kaleeee....

Kalau sempat mampir ke blog saya...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ikut ngomentari nih&#8230;</p>
<p>untuk saudara denoenk,</p>
<p>Pengetahuan anda tentang sejarah sangatlah dangkal&#8230; amat sangat dangkal, bahkan Al-Quran Surah Al-Ahzāb : 33 tidak anda pahami. Jadi ya susah&#8230; saran saya banyak belajarlah bung&#8230; </p>
<p>Keutamaan atau kemuliaan Saydinah Ali. kw. bukan karena beliau mengharapkan pengakuan anda atau bahkan seluruh umat manusia ini. Keutaman beliau karena tingkah laku, peran, kesucian, dan banyak lagi mas&#8230;. banyak yang tidak anda tahu&#8230;. Beliau adalah sahabat, saudara, menantu yang paling utama disisi Nabi. &#8220;Aku gerbang ilmu dan Ali kuncinya&#8221; -hadis Nabi.</p>
<p>Siapa musuh2 beliau?, musuh2 beliau adalah orang-orang durjana (antara lain: Mu&#8217;awiya, Yazid (anak dan cucu Abu Sufyan / Hindun).</p>
<p>Rasul SAW sudah beberapa kali menyampaikan keutamaan Ali kw. (hadis shahih Buhari/Muslim dll). Terakhir waktu haji wa&#8217;da. </p>
<p>Anda jangan aneh atau heran dengan negeri Persia yang tidak hidup bersama Rasulullah SAW lebih mengatahui wasiat dsb&#8230; tapi tanyakan pada diri anda sendiri&#8230; anda di sini di Indonesia kok tau tentang islam&#8230; apakah anda hidup bersama Nabi? Apakah Islam di Arab sana lebih benar dari Islam di Indonesia?</p>
<p>Jadi saya pikir lebih baik anda pindah saja ke Arab sana dan hidup berdampingan dengan raja2 arab&#8230; karena menurut anda mereka lebih utama kaleeee&#8230;.</p>
<p>Kalau sempat mampir ke blog saya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: denoenk</title>
		<link>http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/#comment-688</link>
		<dc:creator>denoenk</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 05:28:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cintarasulullah.wordpress.com/2007/06/14/biografi-singkat-amirul-mukminin-ali-as/#comment-688</guid>
		<description>Interpretasi sejarah terlalu mudah dibelokkan sekehendak pembaca. Seperti interpretasi sejarah Supersemar. Jika Rasulullah benar berniat mengangkat Ali ra sebagai pengganti, dan menganggap kejelasan pengganti sebagai sesuatu yang penting, tentunya ia sudah mengumumkannya berulang kali pada kaum Muslimin. Jika beliau melakukannya, maka aneh kaum Muslimin membisu pada saat terjadi kudeta di Saqifah.

Anehnya, penduduk negeri Persia yang tidak hidup bersama Rasululloh lebih mengetahui wasiat beliau sehingga mereka banyak tergabung dalam kelompok yang mendukung versi kudeta Saqifah tersebut. Sementara mayoritas penduduk Madinah dan Makkah, para muhajirin dan Anshor yang dimuliakan Alloh dalam  Al-Quran, justru mendukung pengangkatan Abu Bakar ra sebagai khalifah.

Kalau hanya masalah keutamaan Ali ra, maka tiap sahabat yg terdahulu masuk Islam memiliki keutamaan masing-masing. Tiap sahabat, termasuk Ali ra, sempat melakukan kesalahan karena mereka tidak ma&#039;shum. Hanya orang yang sudah telanjur fanatik pada Ali ra saja yang tidak mau mengakui kesalahan Ali ra dan membesar-besarkan kesalahan sahabat lain demi mendukung pendapat mereka atas keunggulan Ali ra.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Interpretasi sejarah terlalu mudah dibelokkan sekehendak pembaca. Seperti interpretasi sejarah Supersemar. Jika Rasulullah benar berniat mengangkat Ali ra sebagai pengganti, dan menganggap kejelasan pengganti sebagai sesuatu yang penting, tentunya ia sudah mengumumkannya berulang kali pada kaum Muslimin. Jika beliau melakukannya, maka aneh kaum Muslimin membisu pada saat terjadi kudeta di Saqifah.</p>
<p>Anehnya, penduduk negeri Persia yang tidak hidup bersama Rasululloh lebih mengetahui wasiat beliau sehingga mereka banyak tergabung dalam kelompok yang mendukung versi kudeta Saqifah tersebut. Sementara mayoritas penduduk Madinah dan Makkah, para muhajirin dan Anshor yang dimuliakan Alloh dalam  Al-Quran, justru mendukung pengangkatan Abu Bakar ra sebagai khalifah.</p>
<p>Kalau hanya masalah keutamaan Ali ra, maka tiap sahabat yg terdahulu masuk Islam memiliki keutamaan masing-masing. Tiap sahabat, termasuk Ali ra, sempat melakukan kesalahan karena mereka tidak ma&#8217;shum. Hanya orang yang sudah telanjur fanatik pada Ali ra saja yang tidak mau mengakui kesalahan Ali ra dan membesar-besarkan kesalahan sahabat lain demi mendukung pendapat mereka atas keunggulan Ali ra.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
