Asbabun Nuzul

Surah Al-Ahzāb : 33

Pensucian Ahlul Bayt as
“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala jenis kekotoran darimu wahai Ahlul bayt dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”

Berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, ayat ini turun hanya untuk lima orang, yaitu Rasulullah SAWW, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as

Rasulullah SAWW bersabda seraya menunjuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as: “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlul Baytku, maka peliharalah mereka dari keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya.” Banyak hadis lain yang searti dengan hadis tersebut. Silahkan rujuk:

  • Shahih Muslim, kitab Fadhā`ius Shahābah, bab Fadhā`il Ahli Baytin Nabi SAWW, juz 2, hal. 368, cetakan Isa Al-Halabi; juz 15 hal. 194, Syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.
  • Shahih Tirmidzi, juz 5, hal. 30, hadis ke 3258; hal. 328, hadis ke 3875, cetakan Darul Fikr.
  • Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 5, hal. 25, cetakan Darul Ma’arif, Mesir.

dan masih banyak lagi…

 

Surah Asy-Syūrā : 23

Perintah Mencintai Ahlul Bayt as
“Katakanlah wahai Muhammad: “Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini melainkan kecintaan terhadap keluargaku”.

Ayat ini turun untuk keluarga Rasulullah SAWW, yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:

  • Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 130, hadis ke 822, 823, 824, 825, 826, 827, 828, 832, 833, 834, dan 838.
  • Manāqib Ali bin Abi Thalib,karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 307, hadis ke 352.
  • Dzakhā`irul ‘Uqbā, karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 25 dan 138.
  • Ash-Shawā’iqul Muhriqah,karya Ibnu Hajar Asy-syafi’i, hal. 101, 135, 136, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir; hal. 168, dan 225, cetakan Al-Muhammadiyah, Mesir.
  • dan masih banyak lagi…

Surah Al-Baqarah : 124

Ayat Imamah
“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia (berhasil) melengkapinya. Allah berfirman: “Sungguh aku akan menjadikanmu seorang imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim memohon: “ Juga dari keturunanku!”.

Allah berfirman: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh orang-orang yang zalim”.

Dalam Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thabathaba’i juz 1 hal. 273, diriwayatkan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima Nabi Ibrahim as sebagai seorang hamba sebelum Dia mengangkatnya menjadi seorang mabi, mengangkatnya menjadi nabi sebelum Dia memilihnya menjadi rasul, mengangkatnya menjadi rasul sebelum Ia menjadikannya sebagai kekasih-Nya (Khalilullah), dan menjadikannya sebagai khalilullah sebelum mengangkatnya menjadi seorang imam. Dan setelah Allah menganugerahkan semua itu kepadanya, Dia berfirman: “Sungguh Aku telah mengangkatmu menjadi imam bagi seluruh manusia”. Karena imamah itu sangat agung baginya, maka beliau memohon kepada Allah: “Dan dari keturunanku juga!”. Kemudian Allah menjawab: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh orang-orang yang zalim”. Selanjutnya Imam Ja’far berkata: “Orang yang bodoh tidak akan menjadi imam bagi orang yang bertakwa”.

Allamah Thabathaba’i mengatakan berdasarkan riwayat di atas, yang dimaksud dengan “Kalimat” dalam ayat ini adalah imamah Nabi Ibrahim as, Ishak dan keturunannya yang kemudian ia menyempurnakannya dengan imamah Muhammad SAWW dan para imam Ahlul Bayt as dari keturunan Nabi Ismail as Kemudian Allah memperjelas persoalan ini dengan firman-Nya: “Sungguh Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia.”

Hadis tersebut dan hadis-hadis lain yang memiliki kandungan yang sama dengan hadis di atas terdapat di dalam:

  • Al-Manāqib, karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 276.
  • Naqdhus Shawā’iq, karya Sayid Amir Muhammad Al-Khazhim, hal. 220.
  • Dalā`ilus Shidq, karya Al-Imam Al-Muzhaffar, hal. 140.
  • Al-Manāqib, karya Syahr-asyub, juz 2, hal. 263.
  • Tafsir Al-‘Ayyāsyi, tentang surat ini.

 

Surah Asy-Syu’arā` : 214

Ayat Indzār
“Dan berilah peringatan keluargamu yang terdekat”

Ketika ayat ini turun Rasulullah SAWW bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih baik di seluruh bangsa Arab dari apa yang kubawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku dan washiku serta khalifahku?”

Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib. Di antara hadirin beliaulah yang paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya, RasulullahNabi. Aku (bersedia menjadi) wazirmu dalam urusan ini”. Lalu Rasulullah SAWW memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku dan washiku serta khalifahku atasterhadap kalian. Oleh karena itu, dengarkanlah dan taatilah ia.” Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berkata kepada Abu Thalib: “Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu”.

Peristiwa di atas dapat dirujuk di buku-buku berikut:

  • Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 372, hadis ke 514; hal. 420, hadis ke 580, cetakan pertama, Beirut.
  • Tafsir Ath-Thabari, juz 19, hal. 74, cetakan Bulaq; juz 19, hal. 68, cetakan Al-Maimaniyah; juz 19, hal. 121, cetakan kedua, Mesir.
  • Tārīkh Ath-Thabari, juz 2, hal. 319, cetakan Mesir; juz 2, hal. 216, cetakan yang lain.
  • Musnad, Ahmad bin Hanbal, juz 1, hal. 111, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.

 

Surah Ālu Imrān : 103

Perintah Berpegang Teguh Dengan Ahlul Bait
“Berpeganglah dengan tali Allah (hablullah) dan janganlah bercerai-berai”

Yang dimaksud dengan hablullah (tali Allah) dalam ayat ini adalah Ahlul Bayt as Hal ini dapat dirujuk di buku-buku referensi berikut ini:

  • Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 130, hadis ke: 177, 178, 179, dan 180.
  • Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i, hal. 149, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
  • Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 139, 328, 356, cetakan Al-Haidariyah; hal. 119, 274, dan 279, cetakan Islambul.
  • Al-Ittihāf bi Hubbil Asyrāf, karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 76.
  • Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi, juz 4, hal. 16
  • dan masih banyak lagi…

Surah At-Taubah : 119

Orang-orang yang Benar
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar”

Surah Al-An’ām : 153

Perintah Mengikuti Jalan Kebenaran
“Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya”

Surah An-Nisā` : 59

Perintah Menaati Ulil Amr
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan Ulil Amr (yang berasal dari) dirimu”

Surah An-Nahl : 43

Perintah Merujuk Kepada Ahlul Bayt as
“Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak tahu”

Yang dimaksud dengan ahludz dzikr dalam ayat di atas adalah Ahlul Bayt Nabi as Yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as. Silahkan rujuk:

  • Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 334, hadis ke: 460,463, 464, 465, dan 466.
  • Yanābī’ul Mawaddah, karya syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 51 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 46, 119, cetakan Islambul.
  • Tafsir Al-Qurthubi, juz 11, hal. 272.
  • Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 109.
  • Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 570.

Surah Al-Mā`idah : 55-56

Ayat Wilayah
“Sesungguh pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang memberikan zakat ketika sedang ruku’. Barang siapa yang berwilayah kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang yang beriman, sesungguhnya hizbullah adalah orang-orang yang jaya”

Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. ketika beliau memberi sedekah kepada pengemis saat ruku’. Silahkan rujuk:

  • 1.Syawāhidut Tanzīl, Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 161-184, hadis ke 216, 217, 218, 219, 221, 223, 224, 225, 226, 227, 228, 229, 230, 231, 232, 233, 234, 235, 236, 237, 238, 239, 240 dan 241, cetakan Beirut.
  • 2.Asbābun Nuzūl, Al-Wahidi An-Naisaburi, hal. 113, cetakan Al-Halabi, Mesir; hal. 148, cetakan Al-Hindiyah.
  • 3.Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib, Ibnul Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 311, hadis ke 354, 355, 356, 357 dan 358.
  • 4.Kifāyatut Thālib, Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 228, 250, 251, cetakan Al-Haidariyah; hal. 106, 122, 123, cetakan Al-Ghira.
  • 5.Dzakhā`irul ‘Uqbā, Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 88 dan 102.
  • 6.Al-Manāqib, A-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 187.
  • 7.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 409, hadis ke 908 dan 909.
  • 8.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 123 dan 108.
  • 9.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 2, hal. 293.
  • 10.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 53.
  • 11.At-Tashīl li ‘Ulūmit Tanzīl, karya Al-Kalbi, juz 1, hal. 181.
  • 12.Al-Kasysyāf,karya Az-Zamakhsyari, juz 1, hal. 649.
  • 13.Tafsir Ath-Thabari, juz 6, hal. 288-289

Surah Al-Mā`idah : 67

Ayat Tabligh
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan hal itu, berarti engkau belum menyampaikan risalah-Nya.”

Menurut beberapa hadis yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi SAWWW, seperti Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Al-Barra’ bin Azib, Abu Hurairah, dan lainnya, ayat ini turun setelah haji Wada’ di Ghadir Khum sehubungan dengan perintah memproklarnirkan kepemimpinan (wilayah) Ali bin Abi Thalib a.s. Bahan rujukan:

  • 1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, juz 1, hal. 187, hadis ke: 643, 244, 245, 246, 247, 248, 249, 240, cetakan pertama, Beirut.
  • 2.Asbābun Nuzūl, karya Al-Wahidi An-Naisaburi, hal. 115, cetakan Al-Halabi, Mesir; hal. 150, cetakan Al-Hindiyah, Mesir.
  • 3.At-Tafsīrul Kabīr, karya Fakhrur Razi, juz 12, hal. 50, cetakan Mesir 1375 H; juz 3, hal. 637, cetakan Ad-Dar Al-‘Amirah, Mesir.
  • 4.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 60, cetakan Al-Halabi; hal. 57, cetakan pertama.
  • 5.Tafsir Al-Manār, karya Syeikh Muhammad Rasyid Ridha, juz 6, hal. 463.
  • 6.Tafsir An-Naisaburi, juz 6, hal. 470.
  • 7.Tafsir Rūhul Ma’āni, karya AL-Alusi, juz 2, hal. 348.
  • 8.Ad-Durrul Mantsūr, karya Jalaluddin As-Suyuthi, juz 2, hal. 298.
  • 9.Kanzul ‘Ummāl, karya AL-Muttaqi AL-Hindi, juz 6, hal. 153.
  • 10.Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 3, hal. 272.
  • 11.Mustadrakul Hakim, jilid 3, hal. 109.
  • 12.’Umdatul Qāri fī Syarah Shahih Bukhari, karya Badruddin Al-Hanafi, juz 8, hal. 584.
  • 13.Yanābī’ul Mawaddah, Al-Qundusi, hal. 120, cetakan Istambul; hal. 140 dan 298, cetakan Al-Haidariyah.
  • 14.Al-Milal wan Nihal, karya Syahrastani Asy-Syafi’i, jilid 1, hal. 163.
  • 15.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 158, hadis 120, cetakan Beirut.
  • 16.Miftāhun Najāh, karya Al-Badkhasyi, hal. 41.
  • 17.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 6, hal. 347.
  • 18.Mathālibus Sa`ūl, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 44, cetakan Dar Kutub Najaf; hal. 16, cetakan Tehran.
  • 19.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibn Shabbagh Al-Maliki Al-Makki, hal. 25, cet Al-Haidariyah.
  • 20.Tarjamah AI-Imam Ali bin Abi Thalib dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 86, hadis ke 586, cetakan Beirut.
  • 21.Fathul Bayān fi Maqāshidil Qurān, karya Allamah Sayyid Shiddiq Hasan Khan, juz 3, hal. 63, cetakan Mathba’ Al-‘Ashimah, Kairo; juz 3, hal. 89, cetakan Bulaq, Mesir, 23; Al-Ghadir, karya Al-Amini, juz 1, hal. 9.

Surah Al-Kautsar : 1-3

Keturunan Rasulullah SAWW
“Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (keturunannya)”

Ayat ini turun berkaitan dengan pernikahan Fathimah Az-Zahra’ dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s., dan juga sebagai jawaban atas tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAWW terputus. Jadi, yang dimaksud dengan “nikmat yang banyak” adalah Rasulullah SAWW memiliki keturunan yang banyak dan baik melalui Fathimah Az-Zahra’ dan Amirul Mukminin a.s. Keturunan itu adalah para imam a.s. yang akan membimbing manusia menuju ketaatan dan keridhaan Allah. Adapun yang dimaksud dengan “orang yang membencimu dialah yang terputus” adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAWW tidak memiliki keturunan.
Penafsiran ini dapat Anda baca dalam buku-buku berikut:

  • 1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 30, hal. 504.
  • 2.Tafsir Gharā`ibul Qurān(catatan pinggir) Majma’ul Bayān, juz 30, hal. 175.
  • 3.Tafsir Majma’ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 30, hal. 206, cet. Darul Fikr, Beirut.
  • 4.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 M.
  • 5.Al-Manāqib, karya Syahr-asyub, juz 3, hal. 127.

Surah Ash-Shāffāt : 130

Keluarga Yasin
“Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas keluarga Yasin”

Yang dimaksud dengan “keluarga Yasin” adalah keluarga Muhammad SAWW.

 

Surah Ath-Thūr : 21

Keturunan Yang Baik
“Dan orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dalam iman, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka…”

Ayat ini turun untuk Rasulullah SAWW dan keturunannya.

 

Surah At-Tahrīm : 4

Mukmin yang Salih

“Jika kalian (dua orang wanita) bertaubat kepada Allah, maka (hal itu adalah sangat baik dan) sesungguhnya hatimu menginginkan (hal itu), dan jika kalian berdua saling bahu-membahu untuk mengganggunya (Nabi), maka sesunggunya Allah, Jibril dan mukmin yang salih adalah pelindungnya”

—oooOOOooo—

31 Tanggapan

  1. mencintai Nabi bukanberarti hanya mencintai para ahlul bayt saja, tapi juga mencintai para sahabat yang dekat dengannya dan salafussholihiin yang turut menyampaikan risalah islam. Jangan lupa …kita semua tidak bertemu langsung dengan nabi Muhammad SAW. Tetapi karena kecintaan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW. kita memperoleh kebenaran islam. Semoga Allah merahmati seluruh umat Nabi Muhammad ..Amin.

  2. Jelas…

    pada blog ini saya tidak melihat bahwa ada tulisan “KITA TIDAK BOLEH MENCINTAI PARA SAHABAT atau ALIM ULAMA”. “KITA HANYA BOLEH MENCINTAI AHLUL BAYT” tidak ada…

    Saya baru menemui anda seorang yang berkata seperti ini. Para alim ulama (terutama para keturunan nabi semoga Allah melimpahkan rahmat untuk mereka) tidak pernah berkata “mencintai Nabi bukan berarti hanya mencintai para ahlul bayt saja…” Tapi mereka selalu menghormati Ahlul Bayt.

    Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” Al-Quran Surat Al-Ahzab 56.

    Trus apa maksud perkataan Anda ini? apakah kita juga harus mencintai “ABU SUFYAN, MUAWIYAH atau YAZID laknatullah? untuk mendapatkan keridaan Nabi SAW?

    Apa ada tidak membaca:
    “Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu dari kalian kecuali apa yang Allah perintahkan kepada kalian untuk selalu mencintai keluargaku. Hati-hatilah! Jangan sampai kalian menemuiku di telaga surga nanti dalam keadaan membenci keluargaku, menzalimi atau bahkan membunuh mereka!”

    Atau mungkin anda bisa menulis disini bagaimana pendapat anda tentang MUAWIYAH dan YAZID. Saya tunggu.

    Salam untuk Administrator.

  3. Subhanallah..sungguh mulia Nabi Muhammad beserta keluarganya. Terima kasih Afwan. telah mengingatkan saya atas kekejaman orang yang menganiaya para keluarga Rosul. maaf sebesarnya. saya do’if dan khilaf. semoga dakwah anda menjadi penolong kita menghadap Allah SWT.

  4. Ass.wr.wb.
    Umat islam yang sebenarnya (mu’min sejati), yang hakiki, dimata Allah & Rasul adalah orang2 yang mencintai Allah, yang di representasikan kepada mencintai & mengikuti Rasulullah, yang di representasikan kepada mencintai & mengikuti Ahlul Bayt Rasulullah, serta mencintai & berbuat baik kepada para sahabat yang mencintai & mengikuti Allah, Rasulullah, & Ahlul Baytnya. Para sahabat yang kemudian, setelah wafatnya Rasulullah tidak mencintai, bahkan membenci & memusnahkan Ahlul Bayt Rasulullah, sesungguhnya saya bersaksi & berani bersumpah atas nama Allah swt, Rasulullah saww bahwa mereka adalah orang2 munafik, maka laknatlah terus mereka…mereka bukan sahabat Rasullah yang sejati, mereka adalah orang2 munafik yang bersembunyi dibalik nama “sahabat Rasulullah”….

    Wasallam

  5. Saya setuju denga pendapat ardinal diatas. Mereka adalah orang2 munafik!!!. Tapi heran banyak juga lho diantara kita yang menganggap mereka “Sahabat Rasol”.
    Muawiyah Laknatullah….
    Yazid Laknatullah…

  6. Saya setuju dg Aqil Zein. Namun saya juga sangat kagum kejantanan dan kebersihan hati saudara Abdurrahman, sehingga Allah memberikan hidayah kepada beliau dan beliau begitu cepat mengakui dan berterima kasih kepada saudara Aqil Zein. Sangat jarang orang2 spt saudara Abdurrahman yg mnerima kebenaran tanpa bisa dihalangi oleh nafs/ego.
    Alhamdulillah.

    Salam kenal saudara Abdurrahman.

  7. Salam pada kelian,

    Dengar sini baik2,

    Imam yang wajib kita taat ialah :
    Imam Ali Karamallahwajah,
    Imam Hassan Al mujtaba
    Imam Hussein assahid asshuhada
    Imam Ali Zainal Abedeen assajjad
    Imam Muhammad al baqir,
    Imam Jaafar Assaddiq,
    Imam Musa al khazim
    Imam ali al Redha
    Imam Muhammad al jewad
    Imam Ali al naqi,
    Imam Hasan al askari,
    Imam Mahdi al qaem (Allah ghaibkan sementara), semasa ghaib ini lah Allah utus wakilnya kepada kita umat islam seluruh dunia agar wajib mentaati wakil al mahdi iaitu :
    Imam ayatollah Rohollah khomeini dan sekarang penggantinya ialah :
    Imam Ali Khomeini, beliaulah yang WAJIB KITA UMAT ISLAM TAAT.
    SEPATUTNYA SELURUH UMAT ISL;AM DUNIA MENTAATI IMAM ALI KHOMEINI, PATUH ARAHANYA WALAUPUN KITA HIDUP DLM PELBAGAI NEGARA TAPI KITA WAJIB TAAT PADA IMAM KITA SAHAJA.., PEMIMPIN DI NEGARA KITA TAK WAJIB DI TAATI SEBAB MEREKA BERDOSA, MUNAFIK.
    PAHAM.
    Mengenai Saidina abu Bakar dan umar , mereka ini adalah MUNAFIK, SAMA JUGA DGN MUAWIYAH , YAZID LAKNATULLAH.

    Sila komen hujah saya ini, saya ada jawapannya untuk kalian.
    TQ

    • Saya sangat tidak setuju terhadap apa yang anda ungkapkan ,bagi saya taat yang sebenarnya adalah kepada KITAB-KITAB ALLAH , dan mereka bukanlah utusan Allah jadi kalau anda percaya terhadap mereka berarti anda sama dengan orang yang anda sebutkan dan yang anda cela, dan manusia siapapun sekarang hanyalah sebagai pemberi peringatan kepada sesama manusia agar kembali kepada apa yang yang telah menjadi ketentuan Allah dalam AL-QUR’AN,jadi semua kembali kepada aturan Allah bukan aturan manusia ,inilah kesesatan yang nyata ,melebih-lebihkan sifat dan kunggulan seseorang yang tidak pernah diketahui bahkan bertemu langsung ,saya tidak bertemu nabi tapi apa yang terdapat dalam AL_QUR”AN sudah saya pelajari dan semua terbukti bukan lah karangan dan hayalan manusia tapi DIALAH yang MAHA TAHU,jadi jangan sok tahu kalau anda tidak tahu dan jangan mempengaruhi manusia lain bila anda sendiri munafik terhadap diri anda sendiri,bila anda bisa menjawab pertanyaan ini ,artinya anda benar-benar sudah mempelajari AL”QURAN tapi bila anda tidak dapat menjawabnya ,sungguh termasuklah anda golongan yang merugi ,jawablah SAMPAI DIMANA KEYAKINAN ANDA?…… saya tunggu jawaban anda ,cukup ALLAH dan malaikat-Nya menjadi saksi.

    • kalo koment jangan asal donk…hati2…masa sahabat nabi d bilang mnafik..km paling yang munafik..

    • kamu cakep apa ni, tak betul kamu ni.bkin malu negara kita je..

    • kamu tu yang MUNAFIK ….asal Ceplos aja ….Lo …..!!!!##@

  8. Buat The Greater Malay.
    apakah anda merasa lebih baik dari pada abubakar dan umar sehingga anda menyatakan mereka munafik???? perlu anda ketahui Imam Muhammad Al-Baqir (Ahlul Bayt) “Kafirlah orang yang menyatakan mereka berdua kafir” Tlg anda revisi kata2 anda!!!! karna sebenarnya anda telah merusak Syiah khususnya Ahlul Bayt Rasul.

  9. Prihatin sekali ada yang membenci Sayidina Abubakar dan Sayidina Umar padahal kesetiaannya kepada Rasulullah SAW dan pengorbanannya demi tegaknya Islam tidak diragukan lagi. Bertobatlah The Greater Malay, namamu mencerminkan kesombonganmu. Seorang Dai Indonesia pernah menyampaikan dalam ceramahnya bahwa menjelang hari kiamat pasukan Isa Al Masih lebih dahulu memusnahkan golongan ini sebelum melenyapkan Yahudi laknatullah. Wallaahu a’lam.

  10. islam itu fitrah …..walau jauh sekali kejahatan yg kamu lakukan …..akan Allah detikkan kebenaran dihatimu….perhatikanlah cermin hatimu akan detik itu…bertaubatlah kembalilah kamu pada satu jalan di antara 73 jalan itu….rahmatNYA mengatasi kermurkaaNYA

  11. tu orang syiah……ati2 brow…..

  12. Semua ada sebab musababnya? al-Qur’an aja ada sebab diturunkan….
    kejadian disekitar kitapun pasti ada sebabnya. think…!!

  13. Kita diperbolehkan mencintai,mengasihi,menyayangi,dan sebagainya ,tapi ini namanya sudah berlebihan dan jelas jauh dari apa yang disampaikan dan tercatat dalam Al-Quran, bukannya sekedar mengagumi tapi malah melebih-lebihkan seseorang yang nyata-nyata hanyalah manusia yang sudah ditentukan takdirnya selama didunia,mengakui ajaran para nabi dan rosul tapi tidak mau memahami ajaran tersebut ,apabedanya orang yang melebihkan muhammad dengan orang yang melebihkan isa dan lainnya, padahal kedudukannya sama, jelas yang membedakan hanyalah taqwa dan Allah yang menentukan orang tersebut bertaqwa atau tidak, bukan manusia,inilah yang menjadi awal perpecahan umat karena merasa lebih benar tapi tidak mau kembali kepada ajaran yang tidak akan punah dan tercatat dalam Al-Quran ,itulah bila manusia dianggap ajarannya semakin di senangi dan diyakini oleh banyak manusia semakin besar kepalanya dan semakin sombong kelakuannya dan merasa benar dan senag dipuja-puja dan merasa banyak pengikutnya ,inilah manusia yang akan menjadi bahan bakar dalam neraka,tidak percaya? baca AL_KITAB yang nyata -nyata tidak ada keraguan didalamnya dan petunjuk bagi yang bertaqwa,apakah anda masih ragu???????…….Laknatullah kepada anda yang ragu kepada isi AL_QUR”AN dan lebih dulu percaya kepada hadits,ijma ,qiyas dan sebagainya yang nyata-nyata hanyalah sebagai penjelasan agar mudah dalam pemahaman dan Laknatullah kepada anda yang lebih percaya kepada kitab selain AL_QUR’AN.

  14. Saudara2 …. maaf
    Didalam neraka pun Alloh SWT masih memberikan kasih sayangnya, yaitu berupa pengampunan dosa dan jawaban dari rintihan Doa’ Nabi kita Muhammad SAW untuk mengangkat manusia dari kehinaan api neraka.
    Sepatutnya kita semua memahami cinta dan kasih sayang Alloh SWT kepada setiap HambaNya…..
    dan apakah kita patut mengumbar kebencian sementara Alloh SWA sangat menyayangi HambaNya??? Mari kita bersihkan diri dan Hati kita dari keadaan saling membenci. Toh apa gunanya buat kita? Apakah akan membantu keadaan kita dihadapan sang Kholiq dengan perasaan benci tersebut, malah mungkin akan menjerumuskan kita kedalam hati yg merasa selalu Baik dan selalu Benar…. Bukankan yang maha benar itu Hanya Alloh SWT.

  15. Saudara-saudara saya pecinta ahlul bayt, janganlah menghina simbol-simbol sunni. Kita berdakwah dengan santun saja!

  16. APAKAH ADA ‘KETURUNAN’ AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:
    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.
    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.
    3. Isteri-isteri beliau.
    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, dan ada anak lelaki pula, wah masalah pewaris tahta ‘ahlul bait’ akan semakin seru dan hebat. Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Nabi Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai usianya dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan waris tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5 sbb.:

    Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

    Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [QS. 33:4-5]
    jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

  17. dasar syi’ah brengsek……_ masuk aja loe smua k’dlm neraka jahannam.._
    semua kata” kalian tidak bisa di jdkan hujjah.
    sok berada d’jln yg lurus… nafsu d’utamakan.. emosi dijadikan hujjah.

  18. Semoga Allah membinasakan orang-orang yang mengatakan Saidina Abu Bakar As-Siddiq dan Umar Al-Farouk itu munafik. Siapakah kau wahai ‘manusia hina’ yang berani mengatakan kedua2 sahabat nabi yang mulia ini munafik? Ya, Allah binasakanlah mereka….

  19. wah, asbabunnuzul….
    bermanfa’at banget…. boleh minta referensi kitabnya dong :D

  20. abdurahmanadung …. identik syiah.. taqiyah……….

  21. Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata:

    لما مَرِضَ النبيّ صلى الله عليه وسلم مرَضَهُ الذي ماتَ فيه أَتاهُ بلالٌ يُؤْذِنهُ بالصلاةِ فقال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصَلّ . قلتُ : إنّ أبا بكرٍ رجلٌ أَسِيفٌ [ وفي رواية : رجل رقيق ] إن يَقُمْ مَقامَكَ يبكي فلا يقدِرُ عَلَى القِراءَةِ . قال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ . فقلتُ مثلَهُ : فقال في الثالثةِ – أَوِ الرابعةِ – : إِنّكنّ صَواحبُ يوسفَ ! مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ ، فصلّى

    “Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’”

    Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

    أفلا نرضى لدنيانا من رضيه رسول الله صلى الله عليه وسلم لديننا

    “Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”

    Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

    قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه : ادعي لي أبا بكر وأخاك حتى اكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمنٍّ ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر وجاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فكلمته في شيء فأمرها بأمر ، فقالت : أرأيت يا رسول الله إن لم أجدك ؟ قال : إن لم تجديني فأتي أبا بكر

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang’” (HR. Bukhari-Muslim)

    Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

    اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر

    “Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih)

    Dari artikel ‘Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu — Muslim.Or.Id’

    Masihkah sebagian umat yang mengaku pengikut Nabi dan ‘Ali ini mengingkari firman Allah dan sabda Nabi Saw..??

  22. Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, yaitu Ali bin Abi Thalib:

    أي الناس خير بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أبو بكر . قلت : ثم من ؟ قال : ثم عمر ، وخشيت أن يقول عثمان قلت : ثم أنت ؟ قال : ما أنا إلا رجل من المسلمين

    “Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: ‘Kemudian siapa lagi?’. Ali berkata: ‘Lalu Umar’. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: ‘Selanjutnya engkau?’. Ali berkata: ‘Aku ini hanyalah orang muslim biasa’” (HR. Bukhari)

    Sikap Zuhud

    Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu meninggal tanpa meninggalkan sepeserpun dirham atau dinar. Diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali Radhiallahu’anhu:

    لما احتضر أبو بكر رضي الله عنه قال : يا عائشة أنظري اللقحة التي كنا نشرب من لبنها والجفنة التي كنا نصطبح فيها والقطيفة التي كنا نلبسها فإنا كنا ننتفع بذلك حين كنا في أمر المسلمين ، فإذا مت فاردديه إلى عمر ، فلما مات أبو بكر رضي الله عنه أرسلت به إلى عمر رضي الله عنه فقال عمر رضي الله عنه : رضي الله عنك يا أبا بكر لقد أتعبت من جاء بعدك

    “Ketika Al Hasan sedang bersama Abu Bakar Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata, wahai ‘Aisyah tolong perhatikan unta perahan yang biasa kita ambil susunya, dan mangkuk besar yang sering kita pakai untuk tempat penerangan, dan kain beludru yang biasa kita pakai. Sesungguhnya kita mengambil manfaat dari itu semua saat aku mengurusi urusan kaum muslimin. Jika aku mati, kembalikanlah semuanya kepada Umar. Maka ketika Abu Bakar wafat, ‘Aisyah mengirim semua itu kepada Umar Radhiallahu’anhu. Umar pun berkata: ‘Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, sungguh lelah orang yang datang setelahmu’”

    Sikap Wara’

    Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu adalah orang yang wara’ dan zuhud terhadap dunia sampai-sampai ketika ia menjadi khalifah, ia pun tetap pergi bekerja mencari nafkah. Umar bin Khattab pun Radhiallahu’anhu melarangnya dan menganjurkan ia untuk mengambil upah dari baitul maal, menimbang betapa beratnya tugas seorang khalifah.

    Dikisahkan pula dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

    كان لأبي بكر غلام يخرج له الخراج ، وكان أبو بكر يأكل من خراجه ، فجاء يوماً بشيء ، فأكل منه أبو بكر ، فقال له الغلام : تدري ما هذا ؟ فقال أبو بكر : وما هو ؟ قال : كنت تكهّنت لإنسان في الجاهلية وما أحسن الكهانة إلا أني خدعته ، فلقيني فأعطاني بذلك فهذا الذي أكلت منه ، فأدخل أبو بكر يده فقاء كل شيء في بطنه . رواه البخاري

    “Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: ‘Apakah anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya : ‘Dari mana?’ Ia menjawab : ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan” (HR. Bukhari)

    Dari artikel ‘Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu — Muslim.Or.Id’

  23. Alhamdulillah….smg Allah SWT memelihara kita dari kejahatan dan kelicikan syaitan yg tujuannya menyesatkan manusia untuk bersamanya di dlm neraka. Rabb pelihara kami umat muhammad saw dari tipu daya syaitan yg benar2 dasyat dan berpegalaman.

  24. wah ini wordpress nya syi’aaaaaah!!!!! sedangkan syiah bukan bagian islam. jangan ngaku-ngaku deh kalian dari islam. sok cinta ahlu bait.., wong kalian punya keyakinan yang aneh. masa’ kalian nyatakan sahabat yang dijamin Allah Ta’ala masuk surga seorang munafiq???? Allah tuh yang bilang gitu dalam alquran!! kalian pake kitab apa????
    koran??

  25. Ahlul bait sudah wafat semua, yg bertebaran adalah ahlul bid’ah termasuk syi’ah yg mengkafirkan para sahabat Rasul terkecuali keturunan Ali, yg mana beliau saja tidak mengetahui soal syi’ah yg dinisbatkan ke beliau.

    Muawiyah & Yazid keduanya pengikut Rasul SAW, peperangan mereka terhadap Ali berserta keluarganya bukan terkait akidah, tapi masalah kekuasaan & politik ingin saling berkuasa.

  26. Bagus penjelasannya, terimakasih sudah share ilmu. Saya jadi terinspirasi untuk nulis blog tentang asbabunnuzul. Ini sebagian materi yg sudah di publish kompilasi asbabunnuzul quran

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: