Revolusi Imam Husein a.s

a. Tujuan Revolusi Imam Husein a.s
Tujuan revolusi Imam Husein a.s. dapat kita pahami dari ucapannya sendiri. Ketika ia harus keluar dari Madinah karena tekanan dari pemerintahan yang berkuasa saat itu, dalam sebuah surat ia menjelaskan tujuan revolusinya. Ia berkata: “Aku tidak keluar atas dasar kepentingan pribadi dan ingin berfoya-foya atau dengan tujuan ingin merusak dan berbuat kelaliman. Aku keluar dengan tujuan untuk mengadakan perbaikan di tubuh umat kakekku. Aku ingin melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar dan demi menegakkan sirah kakek dan ayahku, Ali bin Abi Thalib a.s.”.

Pada kesempatan yang lain ia pernah berkata: “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa apa yang kami lakukan ini bukan untuk memperebutkan kekuasaan dan mencari harta dunia. Kami lakukan itu demi menghidupkan kembali agama-Mu, memperbaiki segala kebejatan yang telah merajalela di negeri-Mu, supaya orang-orang mustadh’afin hidup nyaman dan semua hukum-hukum-Mu dapat dilaksanakan”.

Atas dasar ini, tujuan utama revolusi Imam Husein a.s. adalah menegakkan kebenaran secara sempurna. Semua tujuan yang telah ia sebutkan di atas, seperti mengadakan perbaikan bagi umat, amar ma’ruf dan nahi mungkar, menegakkan sirah Rasulullah SAWW dan Ali a.s., menghidupkan kembali agama, mengadakan perbaikan di segala penjuru negeri, memulihkan kembali keamanan masyarakat dan  menjalankan hukum-hukum Ilahi, semua itu dapat direalisasikan ketika tampuk kekuasaan dikembalikan kepadanya. Oleh karena itu, ia berkata: “Kami Ahlul Bayt a.s. lebih layak untuk memegang tampuk kekuasaan ini, bukan para perampas zalim itu”.

Dengan ini, tujuan akhir revolusi Imam Husein a.s. adalah mendirikan negara Islam yang dijalankan atas dasar sirah Rasulullah SAWW dan Imam Ali a.s.

b. Hasil Revolusi Imam Husein a.s
Hasil-hasil yang telah diraih oleh revolusi Imam Husein a.s. –meskipun secara lahiriah ia terbunuh bersama para keluarga dan pengikutnya–adalah sebagai berikut:
Pertama, menggagalkan siasat dan politik kotor dinasti Umaiyah yang telah menjadikan agama sebagai pemoles kejahatan dan kelaliman mereka demi mengelabui opini umum, dan mempermalukan para penguasa Bani Umaiyah di hadapan khalayak yang ingin menghidupkan kembali tradisi-tradisi jahiliah.

Kedua, membangunkan kembali jiwa-jiwa yang telah tertidur lelap. Syahadah Imam Husein a.s. di Karbala` yang memilukan telah berhasil membangkitkan rasa berdosa yang sangat dalam di hati muslimin yang sudah terlanjur tidak membantunya (dalam memberontak melawan Yazid). Rasa berdosa ini memiliki dua dampak positif: Di satu sisi, perasaan tersebut telah memaksa mereka untuk menebus dosa yang telah dilakukannya dengan membayar kaffarah, dan di sisi lain, mereka merasa benci dan dongkol kepada orang-orang yang telah memaksa mereka melakukan dosa tersebut. Pemberontakan Tawwaabiin (yang terjadi setelah peristiwa Karbala` guna menentang pemerintahan Yazid) adalah kaffarah yang telah mereka berikan karena tidak membantu Imam Husein a.s. dan balas dendam dari mereka terhadap Bani Umaiyah.

Mungkin sudah menjadi takdir Ilahi bahwa rasa berdosa ini selalu berkobar sepanjang masa dan rasa ingin balas dendam terhadap Bani Umaiyah ini dapat berubah menjadi sebuah revolusi dan pemberontakan-pemberontakan yang menentang para lalim.
Ketiga, Imam Husein a.s. telah berhasil menunjukkan sebuah etika dan tata krama baru dalam kehidupan sosial yang langsung dimanifestasikannya dengan tingkah laku dan darah.

Masyarakat awam kabilah-kabilah yang hidup pada masa itu memiliki kebiasaan menjual agama dan jiwa mereka dengan harga murah dan menundukkan kepala di hadapan para zalim supaya bantuan yang selama ini mereka terima tidak diputus. Tujuan mereka hanyalah kepentingan pribadi mereka dan mereka hanya memikirkan kehidupan mereka sendiri. Mereka tidak pernah memikirkan problema-problema sosial yang sedang menimpa mereka. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menjaga posisi sosial yang mereka miliki dan mendengarkan setiap wejangan para penguasa supaya nama mereka tidak terhapus dari daftar para penerima tunjangan tetap. Oleh karena itu, mereka hanya dapat berdiam diri di hadapan setiap kelaliman dan usaha mereka adalah memamerkan kebanggaan-kebanggaan yang pernah dimiliki oleh kabilah mereka dan menghidupkan kembali kehidupan jahiliah.

Para pengikut Imam Husein a.s. adalah berbeda dari mereka. Demi membangun masa depan, mereka rela mendampinginya. Padahal mereka memiliki istri, anak dan sahabat, menerima tunjangan tetap dari baitul mal dan memiliki kehidupan yang lumayan mapan sehingga mereka –jika mau– dapat menikmati seluruh kelezatan dunia itu. Akan tetapi, mereka lupakan semua itu dan dengan senang hati mereka rela mengorbankan jiwa dan raga mereka bersama Imam Husein a.s. demi melawan para lalim. Satu poin mungkin sangat menarik bagi mayoritas muslimin kala itu. Yaitu seseorang jika harus memilih antara hidup dengan mengemban kehinaan dan mati dengan mulia, ia lebih memilih mati dari pada hidup. Bagi mereka hal ini adalah sebuah figur idola dan menakjubkan. Figur ini telah membangunkan setiap jiwa yang tidur lelap dalam egoisme sehingga kehidupan Islami baru dapat terwujud, sebuah kehidupan Islami baru yang telah sirna bertahun-tahun sebelum berkobarnya revolusi Imam Husein a.s.

Revolusi Imam Husein a.s. telah mampu membangkitkan kembali jiwa untuk memberontak (terhadap setiap kelaliman) dan berhasil mengikis habis setiap penghalang, baik berupa mental maupun sosial yang menghalangi terwujudnya sebuah revolusi.

Revolusi Imam Husein a.s. memberikan pelajaran kepada seluruh umat manusia untuk pantang menyerah, jangan memperjual-belikan nilai kemanusiaan mereka, berontaklah melawan kekuatan-kekuatan lalim, dan korbankanlah segala yang dimiliki untuk merealisasikan tujuan-tujuan Islam.

Begitulah, setelah revolusi Imam Husein a.s. usai, jiwa revolusioner telah tertanamkan di dalam tubuh Islam. Para pengikutnya selalu menanti kedatangan seorang pemimpin yang dapat membimbing mereka, dan setiap kali mereka menemukan orang yang siap untuk menentang kezaliman, mereka menjadikannya pemimpin dalam memberontak melawan dinasti Umaiyah. Syi’ar yang mereka dengung-dengungkan di sepanjang pemberontakan adalah membalas dendam atas syahadah Imam Husein a.s.

Pemberontakan Tawwabiin, masyarakat Madinah, pemberontakan Mukhtar Ats-Tsaqafi pada tahun 66 H. dan pemberontakan Zaid bin Ali pada tahun adalah contoh atas penentangan terhadap kezaliman. Semua pemberontakan ini bersumber dari revolusi Imam Husein a.s. Dalam pemberontakan-pemberontakan ini, muslimin mencari sebuah kebebasan dan keadilan yang pernah hilang karena diinjak-injak oleh para penguasa zalim.

Satu Tanggapan

  1. *Di dinding sebuah gereja tertulis:

    “Apakah umat yang membantai Al-Husain

    Mengharapkan syafaat kakeknya di hari kiamat.”

    Ketika pendeta yang berada di sana ditanya tentang tulisan tersebut dan siapakah yang menulisnya, ia menjawab, “Bait syiar ini telah tertulis di sini sejak lima ratus tahun sebelum nabi kalian diutus.”

    hal ini di tulis di kitab2 ahlu sunnah berikut ini :
    Tarikhu Al-Islam wa Al-Rijalhal. 386, Al-Akhbaru Al-Thiwal hal. 109, Hayatu Al-Hayawan 1 hal. 60, Nuuru Al-Abshar hal. 122, Kifayatu Al-Thalib hal. 290 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 567-568.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: