Dubes AS di Libya Tewas di Berondong Roket

BENGHAZI – Duta Besar Amerika Serikat John Christopher Stevens tewas dalam serangan di Konsulat AS di Benghazi, Libya, Selasa malam (11/09).

Pejabat Libya itu mengatakan Dubes sedang dalam perjalanannya ke satu tempat yang lebih aman setelah para pemrotes menyerang Konsulat AS di Benghazi dan melepaskan tembakan dengan roket. Protes ini terjadi karena dipicu oleh sebuah film AS yang menghina Nabi Muhammad SAW.

Pejabat itu mengatakan dubes itu dan tiga staf lainnya tewas ketika para pria bersenjata menembakkan roket-roket ke mobilnya. Ia mengatakan Kedubes AS telah mengirim satu pesawat militer untuk membawa mayat-mayat itu ke Tripoli dan menerbangkan mereka ke AS.

Para pria bersenjata menyerang kompleks Benghazi itu Selasa petang terlibat bentrokan senjata dengan pasukan keamanan Libya, yang mundur dibawah tembakan gencar. Para penyerang menembaki gedung-gedung itu sementara yang lainnya melemparkan bom-bom rakitan ke komplek itu, meledakkan bom-bom kecil. Kebakarann terjadi di sekitar kompleks itu akibat serangan-serangan tersebut.

Serangan itu terjadi setelah satu protes di Mesir di mana para pengunjurasa memanjat tembok kedubes AS, menurunkan bendera AS dan membakarnya dalam satu protes menyangkut film yang menghina Nabi Muhammad SAW

Aksi unjuk rasa yang dilakukan massa Muslim di kedutaan AS di Libya dan Mesir, merupakan protes terkait film amatir di internet yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW. Film yang memicu kemarahan umat Muslim di Libya dan Mesir itu, dikabarkan telah diproduksi beberapa ekspatriat koptik Mesir yang menetap di AS. Film trailer itu telah muncul di Youtube dalam Bahasa Arab. Beberapa demonstran rasa yang diwawancara media menyatakan bahwa mereka marah dan melakukan aksi unjuk rasa setelah mendengar kabar akan ada film Amerika yang menghina Nabi Muhammad.

Di Mesir, sekitar 3.000 demonstran yang berunjuk rasa di Kantor Kedubes, adalah umat Islam dari gerakan Salafi dan penggemar sepak bola. Mereka menuntut film yang diproduksi di AS itu ditarik dari peredaran. Sam Bacile, warga As yang mengaku membantu proses produksi film itu, menyampaikan maaf kepada kedutaan dan menyatakan tidak pernah membayangkan reaksi umat Muslim akan semarah itu. Bacile mengungkapkan, film itu belum sepenuhnya rampung dan dia menolak telah mendistribusikannya secara online.

Film itu, juga diproduksi dalam Bahasa Inggris dan Bacile tidak tahu siapa yang merilisnya dalam bahasa Arab. Pengunjuk rasa di Mesir menunjuk situs AS termasuk YouTube yang telah menyebarkan petikan adegan dalam film tersebut. Beberapa kelompok anti-Muslim juga memiliki blog yang menayangkan adegan film itu. Dalam serangkaian adegan terputus-putus, pembuat film menggambarkan Nabi Muhammad sebagai seorang anak penganiaya dan pembunuh kejam. Hal inilah yang memicu kemarahan umat Muslim di Mesir dan Libya karena menganggap film tersebut sebagai penghujatan terhadap agama Islam. @dari berbagai sumber

Warga Amerika Danai Politikus Anti-Islam Belanda

Sekelompok warga Amerika Serikat diam-diam mendanai politikus Belanda anti-Islam, Geert Wilders, 49 tahun, untuk meraih kursi dalam pemilihan parlemen (lower house) besok. Dukungan finansial itu ditujukan untuk menghadang pengaruh Islam di Eropa.

Belanda tidak melarang politikus menerima dukungan dana asing. Tapi Wilders, pendiri partai Kemerdekaan, tidak transparan mengenai dukungan dana asing ke partainya dibanding partai politik lainnya.

Adalah Forum Timur Tengah, lembaga think-thank pro-Israel yang bermarkas di Philadelphia, yang mengaku mendanai pertarungan Wilders di pengadilan Belanda, yang mendakwanya telah menyebarkan kebencian pada 2010 dan 2011. Direktur Forum Timur Tengah Daniel Pipes mengatakan uang itu dikirim langsung ke pengacara Wilder melalui Legal Project.

Majalah FrontPage, yang mengoperasikan jaringan dan situs sejumlah kelompok konservatif yang bermarkas di Los Angeles, juga pernah memberikan bantuan dana kepada Wilders. Menurut David Horowitz, yang bertanggung jawab atas majalah itu, menjelaskan bahwa dirinya membayar komisi Wilders saat berkunjung ke Amerika Serikat pada 2009.

Horowitz membayar komisi dari dua pidato Wilders, biaya keamanan saat aksi protes mahasiswa berlangsung, serta akomodasi untuk pengawal pribadinya asal Belanda yang memperpanjang masa tinggalnya demi menjaga keamanan Wilders.

Pemberian dukungan finansial itu dinilai telah melanggar undang-undang pajak Amerika yang melarang lembaga seperti Forum Timur Tengah dan FrontPage memberikan bantuan dana secara langsung kepada kandidat politik ataupun partai politik. Undang-undang ini mengizinkan lembaga non-profit tersebut mendukung perdebatan soal kebijakan finansial.

Wilders, dalam pernyataannya yang dikirim via e-mail, menjelaskan, biaya proses hukumnya saat itu datang dari para sukarelawan dan pembela kemerdekaan berbicara. “Saya tidak menjawab pertanyaan siapa mereka dan berapa yang telah mereka bayar. Ini dapat membahayakan keselamatan mereka,” ujarnya. Ia juga mencurigai ada motif politik di balik isu pendanaan dirinya dan partainya oleh mantan politikus Partai Kemerdekaan.

Pemerintah Belanda sendiri enggan menanggapi soal pendanaan Partai Kemerdekaan. “Saya tidak memiliki informasi atau dokumen,” kata Liesbeth Spies, Menteri Dalam Negeri Belanda.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh TNS Nip dan Universitas Amsterdam memperkirakan Perdana Menteri Mark Rutte dari Partai Liberal bakal meraih kursi di parlemen. Rutte, yang bertugas sejak Oktober 2010 hingga koalisi partainya bubar pada April 2012 akibat pemborosan anggaran, meraih 52 persen suara dalam jajak pendapat itu. Belanda membutuhkan pemimpin yang berani dan riil. Rutte merupakan pendukung anti-bantuan terhadap Yunani dan pendukung pengetatan ekonomi.

Sumber: TEMPO.CO.